• logo nu online
Home Warta Nasional Daerah Melayu Keislaman Opini Pendidikan Tokoh Khutbah Pemerintah Parlemen Pustaka Video Mitra
Kamis, 29 September 2022

Opini

Gus Dur, Indonesia, dan Islam

Gus Dur, Indonesia, dan Islam
Sinci (papan arwah) bertuliskan KH Abdurrahman Wahid dengan aksen Masjid Demak di altar gedung Perkumpulan Sosial Boen Hian Tong atau Rasa Dharma, Gang Pinggir, Kawasan Pecinan Semarang./sumber: pemprovsemarang.go.id
Sinci (papan arwah) bertuliskan KH Abdurrahman Wahid dengan aksen Masjid Demak di altar gedung Perkumpulan Sosial Boen Hian Tong atau Rasa Dharma, Gang Pinggir, Kawasan Pecinan Semarang./sumber: pemprovsemarang.go.id

Sudah 12 tahun yang lalu Presiden RI keempat, almarhum KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur wafat. Setiap tahun, acara-acara peringatan wafatnya (haul) Gus Dur diperingati oleh berbagai kalangan masyarakat di Indonesia. Bukan hanya dari berbagai pemeluk agama, haul Gus Dur juga diperingati oleh berbagai etnis di Indonesia sebagai bentuk penghormatan dalam merawat pemikiran dan perjuangan-perjuangannya sema hidup.

Seperti halnya peringatan Sewindu Haul Gus Dur di Vihara Dhammadipa Batu, Malang. Dan pada tahun ini, haul Gus Dur juga diselenggarakan secara hybrid di Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Bongsorojo, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, pada Kamis (30/12/2021). Haul ini digelar oleh Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Poros Sahabat Nusantara (Posnu) sebagai ikhtiar membumikan moderasi beragama dengan tema “Menepis Prasangka”.

dikutip dari kabarjombang.com, dalam acara tersebut para perwakilan dari agama Kristen, Katolik, Konghucu, Hindu, Aliran Kepercayaan, dan Islam, masing-masing diberi kesempatan untuk menyampaikan prasangka terhadap agama lain. Kemudian perwakilan dari masing-masing agama maupun kepercayaan memberikan klarifikasi terhadap prasangka yang sebelumnya disampaikan peserta lain tersebut. Bentuk nyata kerukunan hidup beragama.

Dikalangan etnis Tionghoa, Gus Dur dianggap sebagai bapak mereka atau yang lebih dikenal sebagai bapak Tionghoa Indonesia. Bahkan mereka membuat Sinci (papan arwah) dengan aksen Masjid Demak bertuliskan KH Abdurrahman Wahid di altar gedung Perkumpulan Sosial Boen Hian Tong atau Rasa Dharma, Gang Pinggir, Kawasan Pecinan Semarang. Seperti yang dikutip dari jatengprov.go.id (2020), ada tradisi sajian tiga daging, yaitu ikan, ayam, dan babi, di altar mereka. Namun mengingat Gus Dur yang seorang Muslim, maka daging  babinya diganti dengan daging kambing.

Sinci Gus Dur sendiri dimaksudkan sebagai wujud penghormatan terhadap perjuangannya dalam melindungi kaum minoritas. Perkumpulan ini juga kerap menggelar kegiatan kebudayaan, diskusi, hingga haul Gus Dur. Mereka menyediakan aula untuk berkumpul para anggota Banser dan Gusdurian untuk mengenang tokoh pluralisme Indonesia itu.

Tiga Perjuangan Penting Gus Dur

Dari sekian banyak perjuangan yang dilakukan oleh Gus Dur, Fajar Kurnianto dalam artikelnya yang dimuat Jawa Pos (2017), ia mencatat setidaknya ada tiga bentuk perjuangan Gus Dur yang selalu penting dan relevan untuk diperjuangkan hingga kapan pun.

Pertama, demokrasi dan keadilan. Menurut Gus Dur, demokrasi sejauh ini adalah pilihan terbaik yang dapat mengakomodasi kebebasan dan kepentingan elemen masyarakat serta individu. Hal ini yang membuat Gus Dur menolak keras terhadap sistem lain yang anti-demokrasi. Gus Dur memiliki cita-cita demokrasi yang tidak berhenti pada tataran prosedural seperti rutinitas pemilihan umum (pemilu). Namun demokrasi harus berlanjut ke tataran yang lebih substantive, yaitu demokrasi yang menciptakan keadilan sosial dan kemaslahatan bagi seluruh rakyat. Terutama mereka yang paling lemah, papa, miskin, dan tertindas.

Keadilan menurutnya sebagaimana tertuang dalam buku Islamku, Islam Anda, Islam Kita (2006) adalah salah satu ketentuan dasar yang dibawakan Islam. Baik itu keadilan perorangan (individual) maupun keadilan politik (kolektif). Keadilan adalah tuntutan mutlak dalam Islam. Alquran berkali-kali memberikan rumusan: ’’hendaklah kalian bertindak adil’’ (an ta’dilu) dan rumusan ’’menegakkan keadilan’’ (kunu qawwamina bi al-qisth).

Melalui dua rumusan Alquran inilah UUD 1945 mengemukakan tujuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yaitu menegakkan keadilan dan mencapai kemakmuran. Kalau negara lain mengemukakan kemakmuran (prosperity) dan kemerdekaan (liberty) sebagai tujuan, negara kita lebih menekankan prinsip keadilan daripada prinsip kemerdekaan itu.

Kedua adalah pluralisme dan kebinekaan. Tak ada yang meragukan pluralisme Gus Dur. Ia sangat mengerti bahwa bangsa ini dibangun di atas kemajemukan suku, bangsa, dan agama. Dan menurutnya hal ini adalah berkah Tuhan yang patut disyukuri dengan cara merawat dan mengembangkannya untuk kemajuan bangsa.

Gus Dur tidak menampik kenyataan bahwa umat muslim adalah mayoritas di negara ini. Sebagai mayoritas, kata Gus Dur, mereka mesti mengembangkan budaya damai dan melindungi kelompok minoritas. Dalam hal itu, Gus Dur menekankan pentingnya mengawal konstitusi dan substansi nilai-nilai keislaman yang luhur. Bagi Gus Dur, Islam yang berorientasi kepada kebangsaan harus mampu mewarnai kehidupan bernegara.

Menurut Gus Dur, kebinekaan adalah rumah yang terdiri atas kamar-kamar. Di kamar-kamar itu penghuninya bebas berekspresi. Namun, ketika ada di ruang tamu dan ruang makan, seluruh penghuni harus mengikuti dan tunduk kepada aturan main bersama rumah tersebut. Jika ada serangan dari musuh luar, seluruh penghuni harus bersama-sama melawan. Dan, jika keluar rumah, semua penghuni harus menjaga nama baiknya.

Mahfud M.D. (2014) menyampaikan bahwa, pluralisme hanya bisa tegak dengan pengakuan kesamaan derajat semua warga negara tanpa membedakan suku, agama, atau golongan. Supaya aspirasi dan kehendak setiap warga tidak liar, maka meniscayakan demokrasi. Lalu, supaya demokrasi tidak liar, harus ada kedaulatan hukum agar demokrasi tidak berjalan prosedural, tetapi subtansial.

Ketiga adalah menegakkan nilai-nilai kemanusiaan. Demokrasi dan pluralisme sangat membutuhkan nilai-nilai kemanusiaan untuk menopang dan memperkuat keduanya. Bagi Gus Dur, Islam adalah agama yang meletakkan nilai-nilai kemanusiaan sebagai fondasinya. Nilai-nilai kemanusiaan itu misalnya disebutkan dalam Alquran, ’’Wahai manusia, sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.’’ (QS al-Hujurat [49]: 13).

Islam Rahmat Bagi Semesta

Alissa Wahid pada  DW.com (2017) menyampaikan, perjuangan yang dilakukan oleh Gus Dur baik dalam beragama dan bernegara itu berasal dari keyakinan Gus Dur yang teguh terhadap Islam dan Demokrasi. Menurut Alissa, Gus Dur meyakini bahwa Islam membawa nilai-nilai universal, sebagaimana tampak dari semangat Islam rahmatan lil alamin, yaitu Islam sebagai rahmat bagi semesta.

Demokrasi, dengan segala keterbatasannya, menjadi pilihan terbaik saat ini untuk mewujudkan nilai universal Islam bagi kemaslahatan manusia. Menurut Gus Dur, demokrasi bukan hanya tidak haram, demokrasi bahkan elemen wajib dalam Islam. Menegakkan demokrasi adalah salah satu prinsip Islam, yaitu as-syura (Musyawarah)."

Kecintaan dan penghormatan masyarakat Indonesia terhadap Gus Dur memang tidak terlepas dari pemikiran dan perjuangan yang diwariskan semasa hidupnya. Jauh sebelum menjadi Presiden RI, sepak terjang Gus Dur dalam membangun keindonesiaan melalui pilar demokrasi dengan memberikan penghormatan dan penghargaan terhadap keberagaman dengan tetap menjunjung tinggi aspek-aspek perbedaan yang khas (agama, suku, politik, budaya) di masyarakat.

Pemikiran dan perjuangannya selalu hadir ditengah situasi Indonesia dalam menghadapi tantangan beragama dan berdemokrasi. Bahkan di saat dunia menghadapi polemik Islamisme-Islamofobia, warisan (pemikiran dan perjuangan) Gus Dur menunjukkan bagaimana Islam menjadi bagian besar dari dunia yang mampu memainkan peran penting dalam mewujudkan Islam sebagai rahmat bagi alam semesta (rahmatan lil alamin).

Pemikiran dan perjuangan Gus Dur ini berasal dari keyakinannya yang teguh pada Islam dan Demokrasi. Gus Dur meyakini bahwa Islam membawa nilai-nilai universal, sebagaimana tampak dari semangat Islam rahmatan lil alamin (Islam sebagai rahmat bagi semesta). Demokrasi, dengan segala keterbatasannya, menjadi pilihan terbaik saat ini untuk mewujudkan nilai universal Islam untuk kemaslahatan manusia. Menurutnya, „demokrasi tidak hanya tidak haram, ia bahkan adalah elemen wajib dalam Islam. Menegakkan demokrasi adalah salah satu prinsip Islam, yaitu as-syura (Musyawarah)." 

Gus Dur juga menjadikan kaidah "tasharuf al-imam ala al-raiyyah manuthun bi al-maslahat" (kebijakan seorang pemimpin sangat bergantung untuk mencapai kesejahteraan umatnya) sebagai panduan. Itulah yang mendasari Gus Dur mengabdikan dirinya untuk rakyat yang dicintainya. Sehingga tidak mengherankan jika masyarakat Indonesia dari berbagai kalangan mencintai Gus Dur dan merayakan haulnya di setiap tahun.


Editor:

Opini Terbaru