• logo nu online
Home Warta Nasional Daerah Melayu Keislaman Opini Pendidikan Tokoh Khutbah Pemerintah Parlemen Pustaka Video Mitra
Kamis, 29 September 2022

Opini

OPINI

MKNU dan Tujuannya.

MKNU dan Tujuannya.
Ilustrasi
Ilustrasi

Madrasah Kader Nahdlatul Ulama yang digagas tahun 2016 oleh Ketua Umum PBNU, KH. Said Aqil Sirodj menjadi bagian penting dalam khidmat pengurus kepada NU.

Pentingnya MKNU dikarenakan beratnya tantangan NU sekarang dan apalagi di masa yang akan datang. Sebagai Jam'iyyah yang ada sebelum kemerdekaan dan ikut mengantarkan Republik Indonesia menggapai kemerdekaan, NU menjadi tonggak penopang NKRI. Sejarah peran para ulama NU di balik Proklamasi kemerdekaan disenyapkan sekian lama. Sehingga yang kita tahu hanya pergolakan politik dan keamanan pada masa itu. Tidak ada yang menceritakan siapa yang berperan menentukan waktu detik-detik Proklamasi, siapa yang menunjuk proklamator dan siapa pula yang bertirakat, istikharah dan laku spiritual lainnya sehingga kemerdekaan ini datang atas berkah rahmat Allah sebagaimana termaktub dalam pembukaan UUD 1945.

MKNU bertujuan mencetak kader Pengurus NU yang berkompeten dengan wawasan ke-NU-an, profesional serta menjunjung tinggi pemahaman aswaja yang memiliki karakteristik tawassuth (moderat), tasammuh (toleran), dan tawazzun (seimbang).

NU sebagai penjaga Islam Ahlussunnah wa jama'ah di Nusantara, terus mengokohkan semangat agar ciri khas Islam yang dibentuk oleh para waliyullah penyebar Islam di Nusantara tidak luntur oleh pemahaman-pemahaman yang memecah belah.

Sejak 2015, jargon Islam Nusantara yang secara ringkas bermakna Islam yang berkembang di nusantara, bukan Islam yang datang dari nusantara. Ketidakfahaman akan hal ini membuat NU menjadi sasaran hujatan dan fitnah. Padahal, berapa banyak negara-negara dunia, yang merujuk kekhasan Islam di nusantara ini untuk diterapkan di negaranya.

Islam Nusantara berbeda dengan Islam yang berada dari tanah diturunkannya, Arab. Bukan pada ajaran tapi pada implementasinya dalam kehidupan. Bersinggungan dengan adat, tradisi, budaya, Islam masuk dengan mudahnya. Tanpa pedang, tanpa perang, tanpa tumpah darah tapi dengan senyum ramah.

MKNU membentuk kader NU yang mengedepankan kebersamaan atau kejamaahan. Kebersamaan baik dalam soal kesejahteraan ekonomi, kebersamaan sosial dan kebersamaan dalam seluruh aspek kehidupan.

Di dalam NU, ditekankan untuk pintar bersama-sama, tidak menganggap diri paling pintar, saleh bersama-sama tidak menganggap diri paling saleh. Sehat bersama, sejahtera bersama.

MKNU mengajarkan nilai-nilai tanggungjawab ke-NUan. Mas’uliyyah diniyyah Islamiyyah, Himayatul Ummah dan Mas’uliyyah Wathaniyyah. Bermakna: tanggungjawab keIslaman, perlindungan terhadap umat, tanggungjawab kebangsaan. Tanggungjawab tersebut harus dimiliki setiap kader NU dalam bersikap dan beramal.

Drs. KH. Sultonul Huda, M.Si. Ketua MKNU Pengurus Besar Nahdlatul Ulama menyampaikan bahwa MKNU diharapkan mampu menghasilkan kader yang selaras dengan pemahaman Aswaja an-Nahdliyah, efektifitas organisasi, dan penguatan kapasitas sumberdaya pengurus, sehingga setiap program kerja yang disusun di setiap kepengurusan NU dapat berjalan dan sesuai harapan dan tujuan.

Melalui MKNU, para kader menjalankan kepengurusan dengan pemahaman akan Fikrah NU yang transendental sehingga membentuk pola fikit dan bersikap tidak terlalu tekstual, juga tidak terlalu liberal (menjadi moderat).

Dalam perjalanannya, Pengurus NU tidak bisa dilepas dari nilai-nilai kebangsaan karena cintanya kepada tanah air sedemikian besar. Maka, di dalam MKNU, penguatan Kecintaan terhadap bangsa harus senantiasa dijaga karena di era globalisasi dan teknologi ini, berbagai macam informasi bisa tersebar dengan cepat. Jika kondisi ini tidak disikapi secara arif, maka bisa menggerus kemajemukan bangsa. Maka, di sini urgensi dan relevansi eksistensi NU tetap diharapkan mampu berada di tengah-tengah kita dan menerapkan nilai-nilai yang selama ini dipertahankan.

Dalam setiap acara NU, akan selalu ada saja warisan dititipkan, baik berupa amalan, maupun ijazah doa yang bersanad. Mutiara2 inilah yang menjadi keberkahan sendiri.

Salah satu doa yang diijazahkan adalah doa Hadhrotusy Syaikh Hasyim Asy'ari,

اَللّٰهُمَّ أَيْقِظْ قُلُوْبَ الْعُلَمَاءِ وَالْمُسْلِمِيْنَ مِنْ نَوْمِ غَفْلَتِهِمِ الْعَمِيْقِ وَاهْدِهِمْ إِلَى سَبِيْلِ الرَّشَادِ. اَللّٰهُمَّ يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ أَحْيِ جَمْعِيَّتَنَا جَمْعِيَّةَ نَهْضَةِ الْعُلَمَاءِ حَيَاةً طَيِّبَةً إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ بِبَرَكَةِ “فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً (النحل: ٩٧)”، “فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِيْ إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُوْنَ (ابراهيم: ٣٧)” وَارْزُقْهُمْ قُوَّةً غَالِبَةً عَلَى كُلِّ بَاطِلٍ وَظَالِمٍ وَفَاحِشٍ وَسُوْءٍ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُوْنَ

“Ya Allah, bangunkanlah hati para ulama dan umat Islam dari kelalaian yang dalam dan berkepanjangan dan tuntunlah mereka ke jalan petunjukMu. Ya Allah, yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri Sendiri, hidupkanlah jam’iyyah kami jam’iyyah Nahdlatul Ulama (NU) dengan kehidupan thoyyibah (kehidupan yang baik sesuai kehendakMu) hingga hari kiamat dengan berkah ayat:

فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً (النحل: ٩٧)

Artinya: "Maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik" (QS An-Nahl: 97).

فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِيْ إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُوْنَ (ابراهيم: ٣٧)

Artinya: "Maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur" (QS Ibrahim: 37).

Dan karuniakanlah mereka rejeki (berupa) kekuatan yang mengalahkan kebathilan, kedzaliman, ketidaksenonohan dan keburukan agar mereka bertaqwa“.

Aamiin.. Yaa Robbal 'Alamin..

Oleh : Ardiansyah
Sekretaris PCNU Kota Tanjungpinang
Alumni MKNU Angkatan 2 Kepri


Editor:

Opini Terbaru