• logo nu online
Home Warta Nasional Daerah Melayu Keislaman Opini Pendidikan Tokoh Khutbah Pemerintah Parlemen Pustaka Video Mitra
Kamis, 29 September 2022

Opini

OPINI

NU yang Saya Pahami; Catatan Singkat MKNU PWNU Kepri

NU yang Saya Pahami; Catatan Singkat MKNU PWNU Kepri
Ilustrasi.(Foto:Istimewa)
Ilustrasi.(Foto:Istimewa)

Setiap kali ada kawan yang bertanya kepada saya, "kenapa kamu ikut NU?" Saya selalu berpikir sejenak, mencari jawaban yang logis, tapi lagi-lagi saya menjawabnya dengan jawaban klasik, "yaaa... Karena orang tua saya NU dan saya dibesarkan di pesantren NU."

Saya menjawab seperti itu karena saya mengidentifikasi ke-NU-an orang tua saya berdasarkan amalan yang beliau lakukan; tahlilan, yasinan, ziarah, ratib, dll., meskipun beliau tidak pernah aktif di struktur NU dan bahkan tidak pernah menyebut dirinya NU atau berafiliasi dengan Ormas Islam manapun. Mungkin inilah yang disebut orang Islam di Indonesia umumnya sudah NU sejak lahir, sudah nalurinya mengidentifikasi dirinya sebagai NU. Kalau kata orang Madura, "Agamanya NU".

Hanya saja, seiring semakin menjamurnya ormas Islam, mengidentifikasi ke-NU-an seseorang tidak cukup hanya dengan amaliyahnya saja. Mengidentifikasi diri kita dan orang lain sebagai Nahdliyyin atau bukan melalui amaliyah yang dilakukannya sering kita lakukan, kita sering terjebak dalam hal ini; Orang NU ya cukup baca yasin, tahlil, ratib, ziarah dan amaliyah lainnya. Memangnya salah seperti itu? Sebenarnya tidak salah, cuma kurang tepat karena apa bedanya kita dengan FPI, Nahdhatul Wathan, Jama'ah Tabligh, Tarbiyah Islamiyah, dan akhir-akhir ini Ikhwanul Mualimin (baca: PKS) yang melakukan amaliyah seperti itu. Inilah kenapa kemudian ada istilah NU rasa wahabi, HTI dll karena melihat NU melalui kacamata amaliyah saja.

Berdasarkan hal inilah, salah satu tujuan MKNU dilaksanakan di KEPRI adalah untuk membentuk kader-kader NU yang mampu mengintegrasikan amaliyah, fikrah, dan harakah dalam diri dan gerakannya. Ketiga hal ini kemudian disebut sebagai pilar NU yang membedakan NU dengan yang lainnya. Jika salah satu pilar ini tidak ada dalam diri warga NU, maka bangunan ke-NU-an dalam dirinya akan mudah goyah jika diterpa "angin".

Pertama, Amaliyah. NU merupakan Ormas yang paling kaya dengan amaliyah. Mulai bayi masih dalam kandungan hingga jasad telah terkubur bertahun-tahun ada amaliyahnya. Amaliyah dalam NU bukan ritual semata yang kosong tanpa makna. Amaliyah NU selain sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah, tetapi juga sebagai sebuah sarana untuk menyambung ikatan ruhiyyah antara kita dengan orang lain, baik yang masih hidup maupun yang telah wafat; kepada Nabi SAW., para auliya, ulama, guru-guru kita dan lain-lain.

Hanya saja, Dr. KH. Mujib Qolyubi dalam MKNU PWNU kepri mengingatkan agar, NU tidak hanya fokus pada melaksanakan amaliyah saja karena NU juga mengurusi masalah sosial dan juga politik. Hendaklah pengurus NU mampu membagi perannya; ada yang merutinkan amaliyah NU, ada yang membentengi amaliyah NU yang seharusnya dilakukan Ra'is Syuriah dan LDNU dengan penguatan dalil-dalil amaliyah NU, ada yang fokus memberdayakan umat yang dilakukan oleh LAZISNU, dan pengurus struktural NU hendaknya lebih fokus mengembangkan kelembagaan NU, jangan malah mengurusi amaliyah terus sehingga bisa mengesampingkan pengembangan lembaga NU.

Kedua, fikrah. Sering kita mendapati orang yang mengaku warga Nahdliyyin karena bermodal amaliyah yang sama, tetapi ternyata cara berpikirnya jauh dari rel yang telah ditetapkan oleh NU. Fikrah Inilah ciri utama NU. Fikrah NU adalah Ahlussunnah wal Jama'ah al-Nahdliyyah. Ada dua konsep mengikuti aswaja al-Nahdliyyah: (1). Bermazhab; dalam bidang fikih mengikuti salah satu dari mazhab Syafi'i, Maliki, Hanafi, dan Hanbali. Namun, umumnya mayoritas warga Nahdliyyin khususnya, umumnya umat Islam Indonesia, mengikuti mazhab Syafi'i; dalam bidang akidah mengikut mazhab Asy'ari dan al-Maturidi; dalam bidang tasawuf mengikuti Imam Al-Ghazali dan Imam Junaid al-Baghdadi.
(2). Metode berfikir. NU mengikuti metode berpikir ulama Ahlussunnah wal Jama'ah; Imam Syafi'i, Imam Abu Hasan Al Asy'ari, Imam Al Ghazali, Wali Songo dll yang memiliki karakteristik moderat (tawasuth), toleran (Tasamuh), seimbang (tawazun), dan tegak lurus (i'tidal). Tentunya selain mengikuti mazhab mereka, yang lebih penting adalah mengikuti metode berpikir mereka.

NU mengajarkan kita untuk moderat, tidak ekstrim kanan dan juga tidak ekstrim kiri, dalam segala hal. Dalam beragama, kita tidak memahami ayat alquran dan hadis secara tekstualis seperti wahabi dan juga tidak liberalis seperti orang liberal. Dalam kehidupan sosial dan politik, kita tidak boleh merespon suatu kejadian secara ekstrim yang dapat menimbulkan kerusakan dan juga tidak apatis; cuek dan tidak peduli. Namun, warga Nahdliyyin harus meresponnya dengan proporsional dan berwibawa.

NU mengajarkan kita untuk toleran terhadap segala perbedaan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat, baik dalam masalah agama, sosial maupun politik. Toleran artinya warga Nahdliyyin harus bisa menghormati dan menghargai setiap perbedaan, perbedaan bukan menjadi alat pemecah belah masyarakat, tetapi perbedaan dijadikan sebagai alat untuk hidup bersatu dengan asas saling menghargai dan menghormati, sehingga terbentuklah kehidupan yang harmonis.

NU mengajarkan kita untuk I'tidal (tegak lurus), artinya kita berjuang semata-mata untuk membela dan memajukan kepentingan NU, agama, umat, dan bangsa. Berjuang di NU bukan untuk mencari keuntungan pribadi atau segelintir kelompok tertentu, tetapi kepentingan bersama; menjadi shaleh bersama, pintar bersama, sejahtera bersama. Inilah salah satu yang ditekankan dalam MKNU, "membentuk kader-kader NU yang mengutamakan kebersamaan dan kejamaahan".

Ketiga, Harakah. Nahdlatul Ulama artinya kebangkitan Ulama. "Kebangkitan" membutuhkan sebuah pergerakan. Tanpa pergerakan mustahil terjadinya kebangkitan. Begitu pula, pergerakan yang tidak terprogram, terstruktur, dan tidak sistematis akan sulit merealisasikan tujuan organisasi. Oleh karena itu, sangat penting bagi NU di KEPRI untuk merapikan kembali struktural dan programnya agar tercapai segala maksud dan tujuan. Selain itu, setiap kader NU juga melakukan pergerakan seirama dengan gerakan yang telah digariskan oleh NU. Jika ini dilakukan, maka efektifitas organisasi NU akan terbentuk, sehingga tujuan dari MKNU pun tercapai.

Menjadi warga Nahdliyyin berarti beramal, berpikir, dan bergerak sesuai dengan rel yang digariskan oleh NU. KH. Idham Chalid (ketua umum PBNU 1956-1984) menegaskan, "NU itu seperti kereta yang berjalan sesuai dengan relnya, bukan taksi yang bisa dipesan oleh siapa saja untuk berjalan sesuai dengan keinginannya".

Wallahu A'lam bish Shawab wal Khatha'.

Oleh : Ustadz Ahmad Fauzi, S.SI.,MA(Ketua LDNU Bintan dan Komunitas NgopiReligi Bintan)


Editor:

Opini Terbaru