• logo nu online
Home Warta Nasional Daerah Melayu Keislaman Opini Pendidikan Tokoh Khutbah Pemerintah Parlemen Pustaka Video Mitra
Jumat, 2 Desember 2022

Opini

Opini

Bom Bunuh Diri dan Tindakan Setelahnya

Bom Bunuh Diri dan Tindakan Setelahnya
M ARFAH
M ARFAH

Batam, NU Online Kepri

Minggu pagi, bangsa Indonesia dikejutkan dengan peristiwa bom bunuh diri di gereja Katedral, Makassar. Peristiwa yang kemudian menjadi topik perbincangan di mana-mana, bahkan di Twitter sempat menjadi trending topik.

Yang kemudian juga menghiasi jagat pemberitaan adalah kecaman yang dilontarkan oleh hampir semua pejabat terkait serta ormas keagamaan dan para tokoh-tokoh masyarakat. Semua bersepakat bahwa tindakan bom diri adalah tindakan keci. Dah semua juga sepakat bahwa peristiwa bom bunuh diri itu tidak serta-merta dikaitkan dengan agama tertentu. Meski saya kurang sependapat, karena justru banyak teroris berangkat dari tafsir ajaran agamanya.

Melansir Brifannicca, bom bunuh diri diartikan sebagai tindakan saat seseorang membawa dan meledakkan bahan peledak untuk menimbulkan kerusakan, sementara membunuh dirinya sendiri dalam prosesnya.

Pertanyaannya kemudian adalah apa tindakan selanjutnya yang harus dilakukan agar peristiwa tersebut tidak terulang di kemudian hari. Saya sependapat bahwa aksi tersebut sungguh-sungguh keci dan merobek ke-bhinekaan yang telah lama terawat. Nah, tindakan-tindakan itu saya perlu dilakukan minimal agar aksi serupa tidak terulang lagi. Ketimbang mengulas jaringan siapa dibalik peristiwa ini, ada kerkaitan dengan organisasi di luar negri, atau siapa yang mendanai.

Saya rasa ini yang harus menjadi fokus kita bersama, tindakan pencegahan kedepannya, sambil juga menunggu rilis resmi dari kepolisian tentang peristiwa yang membuat bangsa kita kembali berduka. Berikan sepenuhnya kepercayaan kepada pihak kepolisian untuk dapat menuntaskan peristiwa ini. Yang kemudian juga harus didalami oleh pihak kepolisian adalah tentu pemilihan kota Makassar dan peledakan yang dilakukan tepat hari Minggu pastilah punya pesan tersendiri, menurut saya ini juga perlu segera didalami.

Tindakan-tindakan pencegahan untuk menangkal aksi terorisme bisa efektif, manakala masyarakat luas dapat berperan aktif. Selama ini masyarakat luas hampir abai/apatis terhadap ini, utamanya masyarakat yang tinggal di perkotaan. Sehingga celah ini dimanfaatkan oleh para pelaku teroris untuk terus menanamkan benih-benih terorismenya.

Ditarik ke belakang, saat terjadi penangkapan terorisme di Lampung berinisial TB, masyarakat sekitar tedak mengetahui secara pasti keberadaan si TB tersebut. Karena memang si pelaku sengaja memilih rumah yang jauh dari keramaian. Hal tentunya bisa saja diantisipasi jika saja masyarakat sekitar bisa mengetahui keberadaan dan melaporkannya jika memang ada warga pendatang apalagi jika tidak diketahui secara pasti asal usul dan pekerjaannya.

Kemudian tindakan kecil yang cukup efektif bisa dilakukan adalah memulai mengkampanyekan indahnya keberagaman di lingkungan sekitar. Tak ayal isu keberagaman masih menjadi isu yang cukup Menjadi sorotan di negri ini. Seringkali karena perbedaan muncul konflik-konflik di masyarakat. Sedikit saja terpecik api konflik ini bisa membesar. Konflik agama juga masih sering menjadi PR bersama. Maka mekampanyekan keberagaman adalah penting untuk dilakukan.

Nasehat Almarhum Gusdur sepertinya bisa diterapkan dalam keberagaman ini. "Indonesia bukan negara Agama tapi negara beragama. Ada lima agama yang diakui di Indonesia, jadi tolong hargai empat agama lain."

Selanjutnya tindakan jangka panjang yang bisa dilakukan adalah menerapkan kurikulum anti-teror sejak dini. Untuk menangkal doktrin-doktrin radikalisme sejak dini sepertinya penerapan kurikulum anti-teror mutlak diperlukan. Sebabnya generasi muda merupakan target yang paling utama dan mudah untuk direkrut oleh aksi terorisme. Kondisi remaja yang masih labil adalah sasaran empuk para pelaku terorisme untuk merekrut anggotanya.

Semua hampir sepakat masuknya bibit-bibit radikalisme di sekolah melalui aktivitas pembelajaran di dalam kelas, melalui buku-buku pelajaran yang diduga membuat konten intoleransi. Dan lemahnya pengawasan dari pihak sekolah/yayasan.

Nah, untuk itu perlu sekitarnya mencari terobosan-terobosan agar bibit radikalisme tidak sampai masuk dan tumbuh di sekolah-sekolah. Misalnya mengadopsi mata pelajaran Ahlusunah waljamaah atau aswaja. Mata pelajaran ini dianggap efektif menanamkan sikap dan nilai moderat, toleran, dan anti-radikalisme.

Tentu saja selain mengutuk keras perbuatan biadab atas bom bunuh diri di Gereja Katedral, Makkasar itu, ada hal yang tidak kalah lebih penting yang harus Juga kita lakukan. Yakni jangan juga ikut menjadi penyebar video ataupun foto kejadian tersebut. Karena tujuan teror melakukan aksinya juga untuk menciptakan kegaduhan dan kekacauan.

Oleh:
M ARFAH
 


Editor:

Opini Terbaru