• logo nu online
Home Warta Nasional Daerah Melayu Keislaman Opini Pendidikan Sosok Khutbah Pemerintah Parlemen Pustaka Video Mitra
Senin, 30 Januari 2023

Opini

Opini

Kita Masih (Akan Terus) Butuh Polisi

Kita Masih (Akan Terus) Butuh Polisi
Kita Masih (Akan Terus) Butuh Polisi.(Foto:NUOK/Ilustrasi)
Kita Masih (Akan Terus) Butuh Polisi.(Foto:NUOK/Ilustrasi)

“Jangan nangis lagi, nanti diambil sama polisi.”


Saya ingat betul, dulu ketika ada anak kecil yang bandel, cengeng, tak mau berhenti menangis, selalu saja ancaman dilontarkan para orang tua adalah si anak tersebut akan ditangkap sama polisi. Ajaib. Seketika anak-anak kecil yang rewel itu diam dan tak nangis lagi. Teknik itu saya rasa banyak sekali dipraktekkan para emak-emak untuk “menjinakkan” anaknya.


Bagi sang anak, sebenarnya ia juga tidak kenal-kenal amat dengan yang namanya polisi. Bersua saja mungkin tak pernah. Lalu dari mana rasa takut itu muncul? Dan kenapa mereka begitu takut? Menurut saya, bisa saja dari glorifikasi yang selama ini dilontarkan para ibu-ibu. Berulang dan disertai ancaman.


Sehingga kesan yang kemudian muncul adalah polisi yang arogan. Suka menculik atau polisi yang suka membentak dengan mata menyalak. Berkat glorifikasi tersebut anak-anak menjadi takut kepada polisi. Membayangkan akan diciduk ketika bertemu. Atau polisi yang berparas garang dan berkumis tebal. Menambah kesan keangkeran dan membuat rasa takut.


Makanya, dulu anak-anak di kampung mendengar kata polisi saja sudah keringat dingin.


Namun belakangan kesan itu sudah mulai memudar. Polisi tak lagi seseram yang dipikirkan. Juga tak sejahat seperti film-film India. Itu semua berkat citra yang kemudian coba dikenalkan jajaran Kepolisian. Khususnya di bidang Humas. Mereka berusaha keluar dari imej keangkeran tersebut. Mendekatkan diri kepada masyarakat. Juga lebih humanis. Nah, upaya-upaya itu banyak membantu dan meninggalkan kesan ke “angkeran” kepolisian. Sehingga kemudian, ketika ada anak-anak ditanya apa cita-citanya? Tak sedikit menjawab ingin menjadi polisi. Alasannya karena polisi keren dan bisa membasmi kejahatan.


Nah, citra-citra kepolisian itu harus terus disebarkan khususnya di bidang Humas. Tekankan bahwa polisi adalah pelayanan masyarakat. Kalau saya sering bilang kita ini masih terus akan butuh polisi.Beberapa hari lalu, di Twitter,  postingan lomba menulis yang diunggah oleh akun Humas Polri menjadi ramai. Replay-nya pun agak liar. Yang mengkritik tak kalah pedas. Mereka yang berada pada barisan polisi tak kalah banyak. Saya kemudian mencari penyebab kenapa postingan yang harusnya mengajak untuk ikut berpartisipasi dalam kepenulisan bisa menjadi ramai. Kesimpulannya, jelas waktu itu, ada tragedi di Kanjuruhan, Malang. Yang menewaskan ratusan orang. Dari sanalah kemudian ada penghakiman.
 

***********
 

Saya miris! Kecewa. Kenapa seperti ini kita berbangsa dalam melihat satu fenomena yang terjadi di masyarakat. Maksud saya, kok ya begitu cepat masyarakat mengambil satu kesimpulan dari suatu peristiwa yang sebenarnya masih dalam tahap mencari fakta yang sesungguhnya. Hanya berbekal dengan potongan vidio yang beredar luas, lalu dengan serampangan kesimpulan bisa ditarik.


Bukan hanya sampai di situ, penghakiman secara sepihak ditujukan kepada instansi yang dianggap bertanggungjawab. Padahal apa yang terjadi belum semuanya diungkap. Benar bahwa ada kerusuhan, ada korban jiwa, namun bagaimana kronologinya ini yang masih belum tuntas. Kita sebenarnya berhenti sampai di situ dulu.


Saya tidak sedang mencoba membela atau berada dalam kubu yang berbeda, tapi mencoba mengambil posisi netral dari peristiwa Kanjuruhan itu. Kita belum tahu peristiwa yang sesungguhnya terjadi. Biarlah kemudian tim yang sudah ditunjuk untuk bekerja dan menjelaskan kepada kita apa yang sesungguhnya terjadi. Tanpa kemudian kita harus adu kuat di medsos lalu ikut memperkeruh suasana.


Kecenderungan kita memang seringkali begitu cepat mengambil satu kesimpulan atas suatu peristiwa. Celakanya, kadang kala kesimpulan yang diambil hanya berdasar pada potongan vidio yang beredar di media sosial. Menurut saya, ini berbahaya sekali.


Lalu berbekal informasi sepotong itu, kita bak dewa yang bisa memfonis siapa yang salah dan siapa saja terlibat. Hal semacam ini sebenarnya tidak hanya terjadi di kasus Kanjuruhan, di hampir semua isu besar yang beredar kerap kali ada satu penghakiman secara sepihak.


Parahnya lagi, di kasus Malang kemarin, di kolom komentar bahkan ada yang meminta untuk polisi dibubarkan saja. Karena tidak becus dan kadang tebang pilih. Begitu katanya. Saya ndak tau komentar seperti itu muncul karena emosi sesaat atau ketidaktahuan belaka. Tapi yang jelas itu konyol namanya.


Saya tak bisa banyangkan kalau sampai insitusi Polri dibubarkan. Walau bagaimanapun kita tetap butuh yang namanya polisi. Ya, kita butuh polisi.


Bayangkan kemudian ketika misalnya polisi dibubarkan. Tak ada lagi polisi di Indonesia. Lalu terjadi sebuah perampokan di salah satu mall. Terdapat korban jiwa. Dan, akhirnya perampok berhasil diringkuk oleh petugas keamanan mall.


Di saat yang sama, lampu lalu lintas tiba-tiba mati. Di persimpangan terjadi penumpukan kendaraan akibat pengendara saling serobot. Tak mau mengalah. Kemacetan tak dapat dihindarkan. Bunyi klakson saling bersahutan. Memekikkan telinga.


Lalu, seorang pengendara motor berteriak kencang, “Polisi kok pada ke mana.”


“Polisi sudah bubar, Mas. Kemarin.”


Saya tak bisa bayangkan cerita di atas benar-benar terjadi. Akan kerepotan kita semua. Bahwa terjadi peristiwa kita semua mengutuk itu, tapi kemudian meminta insitusi Polri sampai dibubarkan itu jelas-jelas salah. Karena selama republik ini masih kokoh berdiri, polisi harus tetap ada.


Kita masih dan akan terus membutuhkan keberadaan polisi. Bukan hanya untuk sekadar keamanan, tapi sendi kehidupan bernegara ini mesti harus ada Polri di dalamnya. Tentu keberadaanya bukan untuk membuat takut masyarakat seperti cerita kecil di atas tapi kehadirannya sebagai pengayom dan pelindung masyarakat banyak.


Oleh : M.Arfah (Redaktur NU Online Kepri)


Opini Terbaru