• logo nu online
Home Warta Nasional Daerah Melayu Keislaman Opini Pendidikan Sosok Khutbah Pemerintah Parlemen Pustaka Video Mitra
Minggu, 21 Juli 2024

Sosok

Kisah Yudiyanto BANSER BATAM yang Jadi Pengusaha Printing dan advertising

Kisah Yudiyanto BANSER BATAM  yang Jadi Pengusaha Printing dan advertising
Kisah Yudiyanto BANSER BATAM yang Jadi Pengusaha Printing dan advertising.(Foto:NUOK/ist)
Kisah Yudiyanto BANSER BATAM yang Jadi Pengusaha Printing dan advertising.(Foto:NUOK/ist)

Batam, NU Online Kepri

Dulu pernah kerja serabutan dengan upah sangat minim, kini Yudiyanto menjadi salah satu pengusaha muda di Batam.


Yudiyanto merupakan seorang pengusaha di bidang advertising. Ia sangat dikenal di bidang usaha periklanan itu. Jauh sebelum meraih kesuksesan seperti sekarang ini, pria yang lahir dan besar di Batam itu pernah merasakan pahitnya kehidupan.


Kepada NU Online Kepri, Kasetma Banser Batam ini menceritakan kisahnya membangun bisnis di bidang advertising serta lika-likunya membesarkan perusahaannya.


"Semuanya sebenarnya berangkat dari hobi, usaha atau bisnis yg di barengi dengan hobi hasilnya pasti sangat luar biasa, Saya tidak terlalu berfikir ini akan menghasilkan pundi-pundi uang apalagi kemudian menjadi penopang ekonomi keluarga," kata pria yang hobi dengerin musik Rock ini.


Sepulangnya dari jogja (2005) Yudiyanto sama seperti pemuda pada umumnya punya semangat ingin sukses, Segala macam usaha pernah dilakukan, mengais pupuk kandang ( telek ayam ) untuk dijual kepada petani2 di tembesi dan batu besar pernah dilakukan, jualan sayur dipasar juga pernah dilakukan, lamar kerjaan ditolak sana sini juga sering banget, sampai akhirnya diterima bekerja di perusahaan. Orang Batam menyebutnya kerja PT. "Waktu itu kerja di MC Dermott," ucap Yudiyanto. McDermott Internasional adalah perusahaan anjungan lepas pantai yang cukup ternama di Batam.


Selepas pulang kerja, Yudiyanto tidak beristirahat. Ia meneruskan hobinya, desain dan mencetak sticker. Meski awalnya hanya iseng-iseng dan semacam hobi belaka dan belum berfikiran untuk memproduksi masal. Sampai kemudian ada salah satu customer yang datang ingin dibuatkan sticker dengan jumlah yang lumayan.


"Customer datang, nawarkan kerja sama. Cuman saya bingung mau jual berapa? Lah wong nggak pernah jualan sticker. Akhirnya konsumen yang nentukan harganya, saya ikut aja. Tapi, saya hitung-hitung, lumayan juga untungnya," jawabnya sambil terkekeh-kekeh.


Dari orderan awal itu dengan keuntungan yang lumayan itu, ia mulai berfikir untuk fokus berbisnis dan meninggalkan pekerjaan utamanya. Sebab, menurutnya terjun ke bisnis tidak boleh setengah-setengah. "Menekuni bidang usaha itu mesti total, kalau mau maju ya maju sekalian jangan pernah ragu," pesannya.


Berbekal itu, ia pelan pelan memanfaatkan kios berukuran 3 meter persegi milik orang tuanya di pelita. Di ruangan kecil itu, hanya ada satu komputer jadul, di sana kisah sukses advertising dimulai.


"Saya pikirnya dulu, sticker itu hanya seukuran bulatan atau persegi kecil dan ditempel di dinding-dinding. Ternyata tidak, stiker itu bisa untuk branding mobil, neon box, papan merek dan macam-macam. Itulah memang, kalau mau berhasil jadi pengusaha, mesti terjun total," kata Bendahara PKB Batam ini.


Dari bisnis sticker itu, ia pelan-pelan mengembangkan ke advertising. Kini Billboard Yudiyanto dengan merek Pelita Sticker bisa dengan mudah dijumpai di pinggir-pinggir jalan utama di Batam.


Pengetahuannya tentang sticker diperoleh secara otodidak. Lagi-lagi ada faktor ketidaksengajaan dan keberuntungan. Ceritanya dulu bermula, saat makan di pinggir jalan di daerah Yogyakarta. Kebetulan disamping warung makan ada yg jualan sticker lengkap dengan mesin cuttingnya nama kiosnya "pakdhe sticker". "masih ingat saya"


"Wah, asyik juga kalau punya sendiri," ungkapnya dalam hati


Setiap makan diwarung itu, ia selalu memperhatikan cara kerja mesin cutting itu. Dan, berfikir suatu saat mesti memiliki mesin cutting itu.


"Begitu ke pulang ke Batam, kumpulkan modal. Saya kemudian telepon pemilik pakdhe sticker itu, menanyakan di mana beli mesin itu. Waktu itu lumayan juga harganya. Saya sampai kaget. Tapi, sudah diniatkan," tutur Yudi.


Tahun 2007 Ketika mesin sampai di Batam. Yudi masih bimbang. Sementara mesin dianggurin. Ia memilih bekerja. Sambil sesekali sepulang kerja mencoba-coba membuat sticker. "Saya kemudian sambil kerja sambil buat sticker, jika masuk kerja pagi malamnya saya buka kios begitu sebaliknya jika kerja malam buka kiosnya pagi, Waktu itu belum kepikiran soal reklame dan segala macam," sambungnya.


Akhirnya, secara perlahan bisnis stickernya meningkat. Kuncinya menurut Yudiyanto, " fokus pada tujuan dan selalu berpikir positif, hal2 positif yg selalu kita pikirkan akan kembali ke kita"


Yudi mengajak, untuk anak-anak muda terus berusaha dan belajar. Dan sesekali harus berani ambil keputusan yg besar. "Bahwa ada tantangan itu ia, tapi memang resiko harus kita ambil. Tentu dengan pertimbangan". Pungkasnya.


Sosok Terbaru