• logo nu online
Home Warta Nasional Daerah Melayu Keislaman Opini Pendidikan Tokoh Khutbah Pemerintah Parlemen Pustaka Video Mitra
Jumat, 2 Desember 2022

Keislaman

Keislaman

Hukum:Mengucapkan Minal Aidin Wal Faizin

Hukum:Mengucapkan Minal Aidin Wal Faizin
Ilustrasi
Ilustrasi

التَّهْنِئَةُ مُسْتَحَبَّةٌ فِي الْجُمْلَةِ؛ لأِنَّهَا مُشَارَكَةٌ بِالتَّبْرِيكِ وَالدُّعَاءِ – مِن الْمُسْلِمِ لأِخِيهِ الْمُسْلِمِ فِيمَا يَسُرُّهُ وَيُرْضِيهِ؛ وَلِمَا فِي ذَلِكَ مِنَ التَّوَادِّ، وَالتَّرَاحُمِ، وَالتَّعَاطُفِ بَيْنَ الْمُسْلِمِينَ


 

Tahniah (ucapan selamat) adalah perkara yang dianjurkan secara umum. Karena, tahniah merupakan bentuk kebersamaan dalam keberkahan dan doa dari seorang muslim kepada sesamanya karena ada perkara yang membuatnya bahagia. Kebersamaan semacam ini dianjurkan karena dapat melahirkan rasa kasih sayang, saling menyayangi dan rasa welas asih di antara sesama Muslim. (Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, juz 14, hlm. 97)


Walau tahniah atau saling mengucapkan selamat berasal dari tradisi, namun hal itu adalah tradisi yang baik. Tradisi yang tidak bertentangan dengan syariat. Tradisi yang apik dapat menguatkan syariat.


Selain mengucapkan selamat hari raya, umat Islam Indonesia juga saling bersilaturahim dan saling memaafkan. Bukan berarti umat Islam Indonesia hanya saling mengunjungi atau saling memaafkan saat hari raya sebab silaturahim dan saling memaafkan dapat dilakukan kapan saja baik saat hari raya maupun diluar hari raya.


Perintah saling memaafkan dan menyambung persaudaraan jelas dalilnya:

 

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ


 

“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (QS Al-Hujurat: 10)


 

عَنْ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ أَخْبَرَنِي أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ


Dari Ibnu Syihab dia berkata; telah mengabarkan kepadaku Anas bin Malik bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa ingin lapangkan pintu rezeki untuknya dan dipanjangkan umurnya hendaknya ia menyambung tali silaturahmi." (HR. Bukhari)


 

وَعَنْ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ رضي الله عنه قالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللَّه صلى الله عليه و سلم : “لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعٌ” يَعْنِي: قَاطِعَ رَحِمٍ. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ


 

Dari Jubair bin Muth‘im ra ia berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Tidak akan masuk surga orang yang memutus silaturahim.” (Muttafaqun ‘alaih)


Walau ucapkan minal 'aidin wal faizin berasal dari tradisi muslim Indonesia, namun hal itu adalah tradisi yang baik. Tradisi yang tidak bertentangan dengan syariat. Tradisi yang apik dapat menguatkan syariat.


Ucapan tahniah tidak ada yang baku jadi boleh pakai redaksi apapun. Boleh pakai taqabbalallahu minna wa minka/minkum, 'id mubarak alaik, sugeng riyadin dsb. Ucapan khas muslim Indonesia dengan kalimat minal 'aidin wal faizin berarti kembali (suci) dan menjadi orang yang menang. Setelah sebulan berperang melawan nafsu maka saatnya umat Islam dihari raya merayakan kemenangan dengan bertakbir mengangungkan nama Allah, saling memaafkan dengan ketulusan yakni lahir dan batin..Wallahu A'lam.


Keislaman Terbaru