• logo nu online
Home Warta Nasional Daerah Melayu Keislaman Opini Pendidikan Tokoh Khutbah Pemerintah Parlemen Pustaka Video Mitra
Jumat, 2 Desember 2022

Keislaman

Keislaman

Dua Kecintaan Ahlussunah Wal Jama'ah

Dua Kecintaan Ahlussunah Wal Jama'ah
Dua Kecintaan Ahlussunah Wal Jama'ah
Dua Kecintaan Ahlussunah Wal Jama'ah

Dua Kecintaan Ahlussunah Wal Jama'ah yang tidak akan ditemui oleh kelompok lainnya yakni kecintaan pada sahabat Rasulullah dan Keluarga Rasulullah (ahlul bait).


Perintah mencintai dzuriyat rasul sebagaimana dalam keterangan:


Sayyid Abdullah bin Alawi Al-Haddad (1634-1720 M) dalam kitabnya berjudul Al-Fushul al-‘Ilmiyyah wal Ushul al-Hikamiyyah, (Dar Al-Hawi, Cet. II, 1998, hal. 89 ) menyampaikan:

 

لأهل بيت رسول الله صلى الله عليه وسلم شرف، ولرسول الله صلى اللهعليه وسلم  بهم مزيد عناية وقد أكثر على أمته من الوصيّة بهم والحث على حبّهم ومودتهم. وبذالك أمرالله تعالى في كتابه في قوله تعالى: "قل لا أسألكم عليه أجرا إلا المودة في القربى" .(الشورى، ٢٣) ـ


“Ahlul Bait memiliki kemuliaan tersendiri, dan Rasulullah telah menunjukkan perhatiannya yang besar kepada mereka. Beliau berulang-ulang berwasiat dan mengimbau agar umatnya mencintai dan menyayangi mereka. Dengan itu pula Allah subhanahu wataála telah memerintahkan di dalam Al-Qur’an dengan firman-Nya: “Katakanlah wahai Muhammad, tiada aku minta suatu balasan melainkan kecintan kalian pada kerabatku.” (QS 42:23).


Perintah mencintai Sahabat Rasul diterangkan dalam hadits:

طُوْبَى لِمَنْ رَآنِي وَآمَنَ بِي وَطُوْبَى لِمَنْ رَأَى مَنْ رَآنِي وَلِمَنْ رَأَى مَنْ رَأَى مَنْ رَآنِي وَأَمَنَ بِي طُوْبَى لَهُمْ وَحُسْنَ مَآبٍ


Beruntunglah bagi orang melihatku dan beriman kepadaku, dan beruntunglah bagi orang yang melihat orang yang melihatku dan orang yang melihat orang yang melihat orang yang melihatku dan beriman kepadaku. Beruntung bagi mereka dan tempat kembali yang baik (HR. Thabrani)


Larangan Menyakiti Ahlul Bait

إِنَّ الَّذِيۡنَ يُؤۡذُوۡنَ اللّٰهَ وَرَسُوۡلَهٗ لَعَنَهُمُ اللّٰهُ فِى الدُّنۡيَا وَالۡاٰخِرَةِ وَاَعَدَّ لَهُمۡ عَذَابًا مُّهِيۡنًا


"Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, Allah akan melaknatnya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan azab yang menghinakan bagi mereka". (QS. Al-Ahzab: 57)

 

أنا حرب لمن حاربكم، وسلم سالمكم.

“Sesungguhnya saya memerangi orang-orang yang memerangi Ahli Bait-Ku, dan saya memberi jaminan selamat kepada orang-orang yang berdamai dengan Ahli Bait-Ku”. (HR. Turmudzi, Ibnu Majah dan Hakim)

 

إن الله حرم الجنة على من ظلم أهل بيتي أو قاتلهم أو أعاد عليهم أو سبهم

 

“Sesungguhnya Allah melarang masuk surga bagi orang-orang yang menganiaya Ahli Baitku atau orang-orang yang memerangi mereka atau orang yang membantu orang lain untuk memerangi mereka dan atau orang-orang yang mencaci mereka”. (HR. Ahmad)


Larangan Mencela Sahabat Rasul

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي فَلَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ


Dari Abu Sa’id Al Khudri Ra., beliau berkata: Rasulullah bersabda: “Janganlah kalian mencela seorang pun di antara para sahabatku. Karena sesungguhnya apabila seandainya ada salah satu di antara kalian yang bisa berinfak emas sebesar Gunung Uhud, maka itu tidak akan bisa menyaingi infak salah seorang di antara mereka; yang hanya sebesar genggaman tangan atau bahkan setengahnya.” [Muttafaq ‘alaih]


Demikianlah keistimewaan Ahlussunah Wal Jama'ah yang tidak dimiliki oleh kelompok manapun. Dua Kecintaan yang tak dapat dipisahkan. Jika ada ahlul bait (habaib) yang akhlaknya buruk, maka cukup tidak usah dijadikan teladan dan tetap dilarang untuk mencelanya. Kewajiban untuk menasehatinya dengan nasehat yang santun.


Keislaman Terbaru